287 Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu." 28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya
Jakarta 4 Zulhijjah 1419 20 Pebruari 1999. Pengantar Penerbit Ruku ini membahas kontraversi antara Islam dan Kristen tentang doktrin penyaliban Isa al Masih, Kenaikan, dan Kebangkitan Isa di Akhir zaman. Mendudukkan masalah ini secara tepat teramat penting bagi umat Islam untuk ketentraman jiwa dan kemantapan kepercayaan umat Islam.
GUNUNGKIDULharianmerapi.com- Operasi Keselamatan Progo Tahun 2022 terus digencarkan jajaran Polres Gunungkidul dengan memberikan imbauan kepada pengendara di jalan dan sosialisasi disiplin berlalu-lintas Selasa (8/3/2022). Dalam pelaksanaan operasi personel kepolisian menggunakan kostum tokoh wayang
SuratanTakdir. Suratan Takdir adalah sebuah FTV produksi Genta Buana Paramita yang ditayangkan di SCTV. Pemerannya antara lain Ade Irawan, Sally Marcelina, Penty Nur Afiani, Debby Cynthia Dewi, Temmy Rahadi, Imel Putri Cahyati, Revi Mariska dan lain-lain. Hadir pula ustadz Jefri Al Buchori yang memberi tausiyah di awal & akhir tayangan.
KuasaIlahi adalah sebuah FTV produksi Genta Buana Paramita yang ditayangkan di SCTV.Pemerannya antara lain Candy Satrio, Mahesa, Penty Nur Afiani, Ahmad Affandy, dan Temmy Rahadi.Hadir pula Ustadz Jefri Al Buchori yang memberi tausiyah di awal & akhir tayangan.. Deskripsi. ALLAH berkuasa atas segala sesuatu di dunia ini. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
2pBr. Tubuh Bernanah dan Kaki Membesar Janin Menghilang Setelah Tujuh Bulan DikandungJenazah Merekat di - Masih ingat sensasi membaca judul-judul di atas pada era 2000-an? Kita mungkin bergidik ngeri dan mengelus dada sambil berucap, "Amit-amit." Kisah-kisah fenomenal tentang siksa kubur itu kini meredup dan perlahan ikut terkubur juga, bersamaan dengan tamatnya sang pionir cerita mistis religius di Indonesia. Saksikan bagian pertama dari seri tulisan Senja Kala Media Cetak, "Hidayah Undercover Kisah Di Balik Cover Seram Majalah Hidayah." ***Pada tahun yang sama ketika Soeharto lengser dari tahtanya, di negeri jiran Malaysia terbit satu media cetak yang kelak melegenda, kita mengenalnya dengan nama Hidayah. Mottonya waktu itu Sebuah Daiges Islam. Digest adalah majalah kecil atau intisari. Orang-orang Melayu kala itu sedang gandrung-gandrungnya cerita mistis, puluhan judul digest misteri tayang tiap bulannya. Penerbit Hidayah PT Variapop Group di Malaysia awalnya menjalankan majalah selebriti Variapop dan menerbitkan beberapa digest lain seperti Variasari yang banyak membahas soal seksologi, Misteri yang mengupas soal hal-hal mistis, dan teranyar Hidayah. Sayangnya, untuk judul terakhir itu hanya beberapa edisi yang laris di pasaran, sedangkan sisanya kurang diminati. Hidayah terbitan Malaysia dengan motto Sebuah Daiges Islam. Istimewa Pemilik Variapop Group H. Mustafa bin H. Ton punya istri orang Indonesia, Wirdaningsih Aminuddin. Akhirnya, H. Mustafa membuka penerbitan di Jakarta. Pada tahun 2000, terbitlah tabloid Berita Indonesia yang ditujukan untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di Malaysia. Salah seorang wartawan pertamanya adalah lulusan akidah filsafat IAIN Sunan Kalijaga bernama Ridwan Malik. Kelak Ridwan menjadi pemimpin redaksi pertama majalah Hidayah di Indonesia."Ketika tabloid itu terbit, saya justru ditugaskan untuk fokus membantu Hidayah yang ada di Malaysia. Sejak saat itu saya menulis untuk Hidayah dan sesekali mengisi di Misteri," cerita Ridwan saat dihubungi ERA, Jumat 30/1/2022.Sebelum Hidayah datang ke bumi pertiwi, majalah Sabili sudah lebih dulu moncer namanya di Indonesia. "Bos saya sebagai pengusaha media sangat senang mempelajari media-media yang terbit di Indonesia," kenang Ridwan. "Salah satu majalah yang beliau lihat pesat perkembangannya pada waktu itu adalah Sabili. Beliau jadi melek ternyata majalah Islam luar biasa pasarnya di Indonesia."Meskipun pada awalnya Ridwan pesimis saat bosnya ingin menerbitkan Hidayah di Indonesia, ternyata majalah itu mampu berdiri teguh hingga 15 tahun sebelum pamit, jauh lebih sukses ketimbang di negara asalnya. Pada 1 Agustus 2001, bayi itu lahir, tetapi istilah digest diganti intisari dan terciptalah motto yang akan dikenang panjang Sebuah Intisari mana datangnya kisah-kisah azab di majalah Hidayah?Kantor pertama majalah Hidayah bertempat di ruko sederhana Senkom Amsterdam Kota Wisata Cibubur, Jakarta Timur. Edisi perdananya dicetak eksemplar, dijual seharga dengan diskon 50% dan segera ludes terjual. Hanya dalam kurun setahun, oplah Hidayah tembus eksemplar, bandingkan dengan majalah sebesar Tempo yang hanya berkisar mewawancarai redaktur pelaksana majalah Hidayah, Sari Narulita dan seorang staf redaksi bernama Herry Munhanif untuk berbagi kisah bagaimana mereka mendapatkan kisah-kisah unik bin ajaib saban bulan. Sari sendiri bergabung sejak 2003 bersama seorang kawannya yang aktif di sebuah majalah komunitas. "Saat itu Hidayah sedang menuju puncak angka penjualan tertinggi berdasarkan survei Nielsen," ujar Sari. Majalah Hidayah edisi Maret 2015. ERA/Agus Ghulam Secara umum, Hidayah sukses digandrungi jutaan orang Indonesia lewat formula dua macam kisah yang tayang di sana. Pertama, kisah husnul khatimah atau tentang akhir hidup yang baik. Kedua dan yang jadi andalan Hidayah, kisah su'ul khatimah yang menceritakan akhir hidup para pendosa dengan berbagai azab yang menimpa mereka. Kedua kisah itu dimasukkan dalam rubrik Kisah kisah-kisah itu masih diadopsi dari materi yang tayang di Hidayah Malaysia. Seiring waktu berjalan, animo masyarakat kian tinggi, rubrik Kisah Nyata yang awalnya berisi tiga kisah setiap bulan bertambah jadi empat. Ridwan yang dipasrahi sebagai pemimpin redaksi Hidayah mulai merekrut lebih banyak orang, termasuk Sari dan Herry. Setelah nama Hidayah kian populer, surat-surat dari pembaca datang silih berganti, baik yang dikirim langsung ke alamat redaksi, lewat panggilan telepon, hingga email Hidayah. Dari sanalah kisah-kisah menarik yang bisa diambil hikmahnya berakar dan jadi sumber liputan tim redaksi. "Itu semua kita jadikan informasi awal. Informasi ini kita seleksi mana yang patut ditindaklanjuti dan mana yang tidak," ujar Herry kepada ERA, Selasa 27/1/2022.Selanjutnya mereka turun langsung ke lapangan, mencari tahu detail setiap kejadian, dan bertemu para narasumber yang akan berkisah panjang lebar soal peristiwa yang ramai jadi buah bibir warga kampungnya. Secara teknis memang terdengar sederhana, tetapi kenyataannya tidak, apalagi jika menyangkut liputan soal akhir tragis mereka yang konon narasumber yang enggan buka suara hingga disambut dengan golokTak ada nama asli atau lokasi pasti yang disebutkan dalam rubrik Kisah Nyata. Namun, bukan berarti dengan menyamarkan nama tokoh dan tempat akan mempermudah tim redaksi mengulik informasi. Herry dan Sari mengisahkan betapa susahnya liputan Hidayah dan berhadapan langsung dengan narasumber pernah meliput satu kasus di sebuah desa di Bogor. Ia ditemani seorang pemandu yang menelepon ke kantor Hidayah dan menjadi informan pertamanya. Herry diantar menuju salah satu rumah warga yang tahu persis kejadian lebih lengkap. “Kebetulan cerita yang saya hendak cari tahu berbau su'ul khatimah,” ujarnya. Dan setelah ia diperkenalkan sebagai wartawan, mendadak bapak tuan rumah tutup mulut dan mengarahkannya untuk bertanya ke orang lain. “Di wajahnya seperti ada ketakutan yang luar biasa,” kenang Herry. Sampai segelas kopi ia habiskan, tuan rumah kekeh tak ingin bicara. Herry akhirnya pulang dan hanya mendapatkan beberapa jepret foto lokasi juga pernah melakukan investigasi untuk kisah utama tentang kematian su'ul khatimah. “Sumber utama kami yang rumahnya tidak jauh dari lokasi tahu persis bagaimana tingkah laku almarhum semasa hidup,” cerita Sari. “Sayangnya, saat itu saya kurang berpikir masak-masak dampaknya jika harus mendatangi objek cerita.”Sari pergi ke rumah keluarga almarhum dengan maksud mengonfirmasi kebenaran kisah yang ia dengar. “Kata warga setempat, keluarga almarhum itu jawara dan gampang ngamuk,” ujarnya. Sesampainya di rumah itu, tak ada sambutan hangat untuk Sari, ia diamuk habis dan diusir dengan acungan golok di hanya dua contoh kecil dari sekelumit kisah kesulitan yang kerap dialami tim redaksi Hidayah. Sari pamit dari majalah itu pada 2011, sedangkan Herry terus berada di sana hingga 2016. Bukan karena ia tak lagi betah liputan, tetapi riwayat majalah Hidayah memang tamat saat itu juga. “Sejak Agustus 2016, seiring tren menjamurnya media online, majalah Hidayah tidak lagi terbit,” tutup penggambar cover seram majalah HidayahApalah artinya kisah-kisah ajaib Hidayah tanpa disokong ilustrasi ciamik yang jadi ciri khas majalah itu di sampul depannya. Tanpa perlu membaca isinya, dari sekilas memandangi cover Hidayah dijamin jiwa pendosa kita sudah meronta-ronta. Kisah-kisah Hidayah semakin hidup lewat goresan tangan lelaki bernama Suryadi. Ia adalah ilustrator otodidak yang bertanggung jawab di setiap cover Hidayah."Saya ngegambar buat majalah Hidayah sebelum majalah itu terbit di Indonesia. Awalnya yang punya majalah Hidayah, orang Malaysia datang ke Jakarta, minta saya bikin gambar buat majalah Hidayah," kata Suryadi, dikutip bergabung dengan Hidayah, ia bekerja menjadi ilustrator di majalah wanita dewasa. Lepas dari sana, pemilik Hidayah menghubunginya berkat kontak yang diberikan bekas kantor lama Suryadi. "Awalnya saya diajakin jadi pegawai. Tapi karena bayarannya tidak sesuai, saya milih jadi freelance saja," mulai berkreasi, Suryadi terlebih dahulu mengkhatamkan kisah yang akan ia gambar untuk menemukan 'rasa' dan menciptakan gambaran utuh di kepalanya. Setelah itu barulah ia mulai menuangkannya di atas kertas. Jika mood-nya sedang baik, cukup seminggu ia merampungkan kerjaannya. Paling lama ia menghabiskan waktu setengah bulan. Sebagai seorang freelancer, Suryadi dibayar Rp300 ribu per ilustrasi yang ia gambar. Suryadi memutuskan cabut dari Hidayah pada tahun 2015. Ia melanjutkan bekerja lepas sebagai ilustrator untuk penerbit buku pelajaran. Satu tahun setelah sang ilustrator pensiun menggambar mayat penuh siksaan, majalah intisari Islam itu ikut pamit dan tinggal memang sudah pergi, tapi kisahnya abadi. Kini, ketika mengenang soal kisah-kisah azab dan hikmah, namanya yang akan pertama terbayang di ingatan kita. Bayangan tentang bagaimana dulu kita selalu bertekad untuk tobat setiap rampung membaca kisah-kisah akhir hayat yang memilukan, sembari berdoa Semoga kematian kita bisa lebih baik lagi.
Syekh Hisyam Al-Burhani, seorang ulama Suriah dari kota Damaskus, mengatakan, kisah berikut "adalah kisah nyata. Ini bukan fiksi seperti dongeng 1001 Malam.” Pada suatu hari ada seorang penggali kubur di salah satu komplek pemakaman terkenal di kota Damaskus. Makam ini penuh dengan ulama, auliya, dan pahlawan syuhada. Saat itu penggali kubur ini dikunjungi oleh seorang wanita. Wanita itu memintanya untuk menggali lama setelah menggali kuburan, wanita itu dan sejumlah pelayat datang membawa jenazah. Kemudian mayat ini diturunkan ke liang lahat. Namun tiba-tiba penggali kubur ini melihat taman surga yang indah. Dia juga melihat dua Malaikat membawa jenazah itu pergi dari sempitnya lahat. Tiba-tiba dia pingsan karena terkejut. Ketika waras dia ditanya apa yang terjadi padanya. Dia menceritakan kejadian itu tetapi orang-orang mengira dia terlalu bulan kemudian, menurut cerita Syekh Hisyam, wanita itu datang lagi dan memintanya untuk menggali kubur lagi. Penggali menggali kuburan lagi. Kemudian wanita itu datang dengan membawa mayat. Ketika mayat itu diturunkan ke liang kubur oleh penggali, hal yang sama terjadi lagi dia melihat taman surga dan para Malaikat membawa mayat itu. Dia pingsan dia sadar, dia mengejar wanita itu dan menanyakan beberapa hal padanya; "Siapa dua mayat itu? Apa yang mereka berdua lakukan hingga mendapatkan karomah seperti ini?" Wanita itu menjawab, “Mereka berdua adalah anak saya. Yang pertama adalah seorang santri thalib ilm, dan yang kedua yang baru saja meninggal adalah saudaranya yang bekerja sebagai tukang kayu dan membelanjakan hasilnya untuk saudaranya yang seorang santri.”Baca Juga Kisah Syekh Abdurrahman Bajalhaban Menjadi Waliyullah Karena Memiliki Istri yang sangat Cerewet“Kontan saja,” lanjut Syekh Hisham Al-Burhani, “dia pergi ke Masjid Jami At-Taubah – masjid tempat saya dan nenek moyang saya mengajar, dia mendatangi kakek saya atau ayah saya? bernama Syekh Said Al-Burhani. "Masjid Jami At-Taubah merupakan masjid yang memiliki sejarah panjang di kota Damaskus. Dalam sejarahnya Izzuddin b. Abd Salam sulthanul ulama; pengarang Qawaidul Ahkam dan Ibnul Jazari ulama qiraah, pengarang An-Nasyr dan Muqaddimah Jazariyah termasuk di antara ulama yang pernah menjadi khathib di Jami 'At-Taubah.“Saya ingin belajar agama,” kata penggali kubur kepada kakek Syekh Hisyam. "Umurmu hampir 50 tahun. Apa yang membuatmu ingin belajar mengaji ?" Kemudian penggali kubur menceritakan kisahnya. "Baiklah," kata kakek Syekh Hisyam. “Ambillah kitab Jurumiyah. Mari kita belajar mengaji nahwu dari awal.”Sejak saat itu, penggali makam rajin belajar hingga menjadi ulama besar Damaskus. Penggali kubur itu bernama Syekh Abdurrahman Al-Haffar Haffar artinya penggali. Dan memiliki keturunan yang juga ulama dan pecinta ilmu. Salah satunya adalah Abdur Razaq Al-Haffar. “Siapa saja bisa mendapatkan gelar yang sama,” kata Syekh Hisham menutup kisahnya, “asalkan dia mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.” Demikian kisah penggali Kuburan yang menjadi Ulama besar di kota Damaskus dan juga memiliki keturunan yang Alim. Semoga kisah diatas bisa menambah semangat kita untuk terus belajar mengaji demi mencari ridho Allah SWT Amiin... Wallahu A'lam Bishowab.
Sebetulnya saya sudah lama menyoroti majalah Hidaya ini yang sering memuat cerita-cerita yang selalu menghubung-hubungkan Keadaan Jasad seseorang dengan amal dan perbuatannya, Saya berhenti posting soal majalah Hidayah ini karena kirain majalah ini sudah tutup eh ternyata pas kemaren jalan jalan ke toko majalah ada edisi 2011 tuh,, Saya berharap Majalah Hidayah berhenti Bisnis menjual Kisah Mayat, Judul judul cerita biasanya seperti ini “Mayat di kerumuni belatung”, ” Keburan di penuhi air” dan lain sebagainya, Alam kubur bukanlah Kuburan, jadi meskipun jasad seseorang tidak di kubur hanyut di laut dll, seseorang yang telah meninggal di pastikan akan masuk ke alam kubur, nama lain dari alam Kubur adalah alam barzah yakni sebuah alam dimana orang yang sudah meninggal menunggu sebelum kebangkitan di hari kiamat. Hanya orang yang sudah meninggal yang bisa masuk ke alam kubur, Jadi kalau pun seseorang mencoba masuk ke kuburan dalam kondisi hidup pakai oksigen atau peralatan tertentu, dia tidak akan bisa masuk ke alam kubur kecualai Jika allah mengizinkan seperti yang pernah di alami oleh Nabi Muhammad dalam sebuah riwayat dimana Nabi Muhammad SAW bisa mendengar teriakan seseorang di alam Barzah, tapi ingat, jika Nabi Muhammad adalah orang terpercaya dan yang tingkat keimanannya tentu saja Jauh di atas para ulama sekalipun, maka apa mungkin ada seseorang yang biasa-biasa saja tingkat keimanannya yang mengaku dirinya pernah melihat alam kubur, hmmm Sulit di percaya. Kebalikan dari alinea di atas adalah,, Orang yang sudah meninggal di pastikan akan masuk ke alam kubur meskipun jasadnya tidak di kubur. Cerita seperti di majalah hidayah itu bisa menjadi Fitnah , bagaimana jika orang beriman tapi tiba tiba kuburannya mendapat musibah misalkan terkena bencana atau yang lainnya,?? orang yang sudah di jejali dengan cerita cerita Fiksi Adzab kuburan ini akan beranggapan bahwa orang itu bukanlah orang beriman, padahal apapun bisa terjadi karena sejauh yang saya tahu. Allah swt tidak pernah firman akan menjadaga Jasad orang yang beriman, yang allah janjikan adalah kebahagiaan abadi yang di alami oleh jiwa kita di alam Barzah atau alam Kubur dan bukan jasad kita.
cerita hidayah bangkit dari kubur